American
Society of Civil Engineers (ASCE) menganggap definisi yang lebih komprehensif
infrastruktur ada pada laporan tahunan "Daftar Laporan Infastruktur
Amerika ”. Daftar ini memuat data infrastruktur untuk penerbangan, jembatan,
bendungan, air minum, energi, tempat limbah berbahaya, jalur air bernavigasi,
taman umum dan rekreasi, kereta api, jalan, sekolah, keamanan, limbah padat,
jalur transit dan jalur air limbah. Sekali lagi, bagaimanapun, daftar laporan
tidak menjelaskan mengapa sarana sarana itu dikelompokan dalam kategori
infrastruktur (dalam Dixon dan Baldwin, 2008:17).
Karateristik infrastruktur adalah: (1) Aset memiliki bentuk
fisik dengan masa pakai yang panjang. Penciptaan aset memerlukan cukup periode
persiapan pembangunannya; (2) Aset memiliki sedikit pengganti dalam jangka
pendek; (3) Struktur aset mampu memperlancar aliran barang dan jasa dan tanpa
asset akan terjadi gangguan dalam aliran persediaan barang dan jasa; (4) Aset
penting terutama karena asset berfungsi sebagai barang komplementer atau
pelengkap terhadap barang dan jasa dalam faktor produksi; dan (5) Memiliki
ekternalitas positif yaitu daya manfaatnya dapat dinikmati pihak diluar pembuat
infratruktur tersebut (Baldwin dan Dixon,2008:20). Bank Dunia (dalam Wahyuni,
2009:20-21) mendefinisikan infrastruktur ekonomi, merupakan aset fisik yang
diperlukan untuk menunjang aktivitas ekonomi baik dalam produksi maupun
konsumsi final, meliputi public utilities (tenaga, telekomunikasi, air
minum, sanitasi dan gas), public work (jalan, bendungan, kanal, saluran
irigasi dan drainase) serta sektor transportasi (jalan, rel kereta api,
angkutan pelabuhan, lapangan terbang dan sebagainya).
pelabuhan,
lapangan terbang dan sebagainya). Hubungan Infrastruktur dan Pertumbuhan
ekonomi
Menurut
Garmendia dkk (2004:04), hubungan antara jasa infrastruktur, pertumbuhan
ekonomi dan hasil-hasil sosial seperti bekerjanya Millennium Development
Goals melalui saluran-saluran yang ganda seperti yang dilukiskan di dalam
gambar 2.1. Kontribusi dari jasa seperti air, sanitasi , transportasi dan
energi secara langsung rumah tangga manfaat dan dapat secara dramatis
memperbaiki kesejahteraan mereka. Keterkaitan antara infrastruktrur dan
pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari fungsi dari infrastruktur sebgai enabler
kegiatan ekonomi. Infrastruktur mempunyai manfaat menggerakan berbagai
sektor perkenonomian karena
dianggap sebagai social overhead capital (Hirchman dalam
Yanuar dalam Permana, 2009:11).
nyerangan yang dilakukan oleh The Da
Vinci Code terhadap Kristus
dan Firman-Nya, Alkitab, meluncur lebih dalam dari hanya sekedar
sebuah penyerangan teori konspirasi kuno belaka. Dengan menanamkan benih
keraguan dalam pikiran pembaca tentang keberadaan Alkitab, baik novel maupun
film-nya telah melakukan suatu penyerangan langsung terhadap otoritas Kitab
Suci. Menurut sejarawan fiksi Leigh Teabing, salah satu tokoh rekaan Tuan
Brown, bahwa Kaisar Romawi Constantine telah memilih diantara injil-injil kuno
dan memilih yang paling pas dengan agenda politik yang dijalankannya, termasuk
juga menciptakan satu buku yang sekarang ini kita kenal sebagai Alkitab. (Dalam
kenyataannya, Kitab Suci kanonik
belum diajukan pada konsili gereja sampai dengan kematian Constantine—Dewan
Nicene Constantine lebih memperhatikan masalah ketuhanan dan kealamian
Kristus.) Pelajaran sejarah Tuan Brown yang “fiksional” merupakan kecerdikan
pseudo-academic dimana sejarah itu telah berulangkali ditolak oleh para
cendikiawan sejarah dan ahli Alkitab The Da Vinci Code adalah
“penyerangan yang paling serius terhadap Kekristenan abad ini” adalah benar?
Dalam suatu pengertian dia telah mendekati kebenaran, dalam hal tentang
penyerangan terbesar terhadap Kekristenan dan Yesus Kristus, dan dalam maksud
tertentu termasuk didalamnya menyerang Firman-firman yang diucapkan Kristus.
Bagaimanapun, dalam peperangan ini, The Da Vinci Code hanyalah sebuah
roda gigi kecil yang terdapat dalam sebuah roda raksasa. Berapa banyak para
ahli teologia dan pemimpin Kristen menyadari bahwa mereka angkat tangan dalam
menghadapi karya fiksi yang terus menerus mencoba untuk menyatakan bahwa ke-66
kitab yang terdapat dalam Alkitab tidak dapat dipercaya khususnya pada kitab Kejadian?
Suatu hari The Da Vinci Code akan berangsur-angsur menghilang pesonanya,
sementara generasi Kristen semakin dalam tenggelam dalam ketidakpercayaan.
Disinilah perang sesungguhnya telah menerima hasilnya.
Apakah
saudara orang percaya atau bukan dan memilih (dengan keleluasaan) untuk membaca
The Da Vinci Code atau menonton filmnya, tetap merupakan hal yang
penting untuk mengiinformasikan ke seluruh aspek mengenai penyerangan terhadap
Firman Allah ini – apapun bentuknya—dan “siap sedia untuk
memberikan jawaban” dengan lemah
lembut dan hormat
nyerangan yang dilakukan oleh The Da
Vinci Code terhadap Kristus
dan Firman-Nya, Alkitab, meluncur lebih dalam dari hanya sekedar
sebuah penyerangan teori konspirasi kuno belaka. Dengan menanamkan benih
keraguan dalam pikiran pembaca tentang keberadaan Alkitab, baik novel maupun
film-nya telah melakukan suatu penyerangan langsung terhadap otoritas Kitab
Suci. Menurut sejarawan fiksi Leigh Teabing, salah satu tokoh rekaan Tuan
Brown, bahwa Kaisar Romawi Constantine telah memilih diantara injil-injil kuno
dan memilih yang paling pas dengan agenda politik yang dijalankannya, termasuk
juga menciptakan satu buku yang sekarang ini kita kenal sebagai Alkitab. (Dalam
kenyataannya, Kitab Suci kanonik
belum diajukan pada konsili gereja sampai dengan kematian Constantine—Dewan
Nicene Constantine lebih memperhatikan masalah ketuhanan dan kealamian
Kristus.) Pelajaran sejarah Tuan Brown yang “fiksional” merupakan kecerdikan
pseudo-academic dimana sejarah itu telah berulangkali ditolak oleh para
cendikiawan sejarah dan ahli Alkitab The Da Vinci Code adalah
“penyerangan yang paling serius terhadap Kekristenan abad ini” adalah benar?
Dalam suatu pengertian dia telah mendekati kebenaran, dalam hal tentang
penyerangan terbesar terhadap Kekristenan dan Yesus Kristus, dan dalam maksud
tertentu termasuk didalamnya menyerang Firman-firman yang diucapkan Kristus.
Bagaimanapun, dalam peperangan ini, The Da Vinci Code hanyalah sebuah
roda gigi kecil yang terdapat dalam sebuah roda raksasa. Berapa banyak para
ahli teologia dan pemimpin Kristen menyadari bahwa mereka angkat tangan dalam
menghadapi karya fiksi yang terus menerus mencoba untuk menyatakan bahwa ke-66
kitab yang terdapat dalam Alkitab tidak dapat dipercaya khususnya pada kitab Kejadian?
Suatu hari The Da Vinci Code akan berangsur-angsur menghilang pesonanya,
sementara generasi Kristen semakin dalam tenggelam dalam ketidakpercayaan.
Disinilah perang sesungguhnya telah menerima hasilnya.
Apakah
saudara orang percaya atau bukan dan memilih (dengan keleluasaan) untuk membaca
The Da Vinci Code atau menonton filmnya, tetap merupakan hal yang
penting untuk mengiinformasikan ke seluruh aspek mengenai penyerangan terhadap
Firman Allah ini – apapun bentuknya—dan “siap sedia untuk
memberikan jawaban” dengan lemah
lembut dan hormat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar